Kapan Birokrasi Mau Berbenah ?

Baru-baru ini saya dan tim sedang melakukan riset mengenai kebutuhan peralatan usaha-usaha yang dijalankan oleh pelaku UMKM di salah satu daerah. Untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat, maka kami harus melakukan survey dan interview langsung terhadap pelaku usaha.

Namun sayangnya informasi mengenai sentra-sentra industri UMKM masih sulit kita dapatkan di dunia maya. Kalaupun ada hanya beberapa saja, itupun seringkali tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Akhirnya saya dan tim memutuskan untuk mencari data di kantor dinas perindustrian,perdagangan dan koperasi. Ternyata respon dari pihak dinas di luar dugaan kami, karena untuk mengakses informasi mengenai keberadaan sentra-sentra produksi UMKM prosedurnya tidak sesederhana itu. Kami diminta untuk mengajukan surat resmi terlebih dahulu ke dinas tersebut. Selanjutnya pihak dinas, baru akan mencari informasi yang kita butuhkan. Bukan mengakses informasi tapi masih dalam tahap mencari,belum lagi kalau data dan informasi yang tersedia sudah lama tidak diupdate. Padahal informasi seperti ini harusnya bisa dipublish di website dinas. Sehingga publik dengan mudah mengaksesnya.

Betapa tidak mudahnya kita melakukan riset di negeri ini. Informasi yang seharusnya bisa diakses dengan mudah oleh publik, baik melalui online maupun offline tapi harus melalui meja-meja birokrasi yang sarat dengan ketidakjelasan dan kepentingan. Apakah wajah birokrasi kita sudah sebanding dengan remunerasi yang diterima ?

Demam Berdarah Mengamuk

Penyakit demam berdarah merupakan penyakit yang cukup berbahaya. Jika tidak mendapat pertolongan dengan cepat, maka bisa menyebabkan kematian. Sudah sekitar 1 bulan ini penyakit ini mengamuk di daerah tempat saya tinggal. Dari sekitar 30an KK yang tinggal di RT saya, sudah ada 10 orang yang terjangkit penyakit demam berdarah. Mulai dari balita sampai orang dewasa. Sebenarnya kasus ini sudah kami laporkan ke layanan kesehatan terdekat. Dan tim dari puskesmas sudah sempat survey. Namun sampai saat ini belum ada langkah-langkah kongkret dari pemerintah setempat untuk merespon kasus ini.

Selain menjaga rumah dan lingkungan agar tetap bersih dan sehat, adakah upaya-upaya lain yang harus dilakukan untuk membasmi penyakit demam berdarah ini? Bagi teman-teman yang punya pengalaman atau pemerhati di bidang kesehatan minta saran dan masukannya?

Birokrasi BPN

Kemarin siang untuk pertama kalinya saya berurusan dengan Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN). Setelah lebih dari 1 bulan proses peningkatan hak guna bangunan menjadi hak milik akhirnya selesai juga. Sebenarnya waktu yang dibutuhkan hanya sebentar sekali. Dengan menunjukan KTP dan memberitahukan ke petugas loket bahwa saya yang ikut program One Day Service (ODS). Kemudian saya tanda tangan kwitansi. Tidak lebih dari 5 menit berkas sertipikat sudah di tangan. Namun ada yang menarik perhatian saya, karena di mana-mana tulisan “anti korupsi” terpasang di beberapa tempat. Selain itu ada juga tulisan “dilarang membayar lebih dan tidak menggunakan calo” di depan beberapa conter layanan.

Setahu saya BPN merupakan salah satu dari sekian banyak instansi pemerintah yang terkenal dengan budaya korupsinya. Budaya yang birokratis dan memperpanjang waktu adalah satu cara yang dilakukan oleh petugas, agar uang bisa mengalir ke kantong. Karena tidak semua orang mau bersabar dengan birokrasi yang mereka tentukan. Untuk mempercepat proses, maka salah satu caranya adalah dengan memberikan uang lebih kepada petugas. Berdasarkan informasi dari tetangga saya yang kebutulan orang BPN dan melihat pelayanan yang diberikan ternyata mereka sudah mulai berbenah. Pelayanan sudah mulai ditingkatkan, mereka menyediakan nomor pengaduan, jika ada oknum petugas yang meminta uang lebih. Salah satu yang menarik adalah setiap minggu mereka menyelenggarakan program One Day Service (ODS). yang biasanya berbulan-bulan dokumen bisa selesai hanya dalam waktu 1 hari.

Semoga ke depan semua instansi pemerintah mau berbenah, tidak ada yang tidak mungkin asal kita semua mau berubah.

IMB Hilang

Beberapa minggu yang lalu di perumahan tempat saya tinggal mendapat bantuan dari pemerintah untuk proses peningkatan status Sertipikat Hak Guna Bangunan (SHGB) menjadi Serpikat Hak Milik (SHM). Bagi warga yang rumahnya masih berstatus SHGB diberikan bantuan dalam proses peningkatan hak menjadi SHM. Karena ini program kolektif, maka biayanya sangat murah dibandingkan dengan pengurusan melalui notaris. Selain itu, pengurusan berkas-berkas cukup diserahkan di RT, jadi tidak perlu keluar masuk instansi. Sebagai warga yang status rumahnya masih SHGB, saya pun ikut mendaftar dalam program tersebut. Setelah mendapat formulir dan persyaratan yang harus dilampirkan, ternyata ada satu syarat yang belum bisa dipenuhi yaitu IMB. Karena memang IMB rumah saya masih belum ketemu/hilang. Upaya pencarian sudah dilakukan, namun masih belum ketemu juga :).

Setelah berkonsultasi dengan pegawai BPN, saya disarankan untuk melaporkan ke Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan. Karena berkas sudah harus diserahkan paling lambat minggu ini, tadi pagi saya bergegas meluncur ke Kantor DPU&P. Di kantor PU&P kita cukup melaporkan identitas pemegang IMB,alamat perumahan dan tahun dikeluarkannya IMB yang hilang tersebut. Nampaknya berkas tersebut harus dicari secara manual. Sehingga saya harus pulang dengan tangan hampa dan harus menunggu konfirmasi dari petugas.

Di era teknologi informasi yang demikian pesatnya, ternyata masih saja ada instansi yang belum memanfaatkan teknologi informasi. Tidak bisa dibayangkan betapa susahnya melacak IMB untuk satu kabupaten/kota jika masih menggunakan proses pencarian berkas secara manual. Kalau saja sudah menggunakan sistem, maka saat itu juga kita mendapatkan informasi tentang keberadaan IMB tersebut. Tidak harus menunggu proses pencarian oleh petugas yang entah membutuhkan waktu berapa lama?.

Dengan tidak adanya sistem, maka potensi terjadinya korupsi di instansi pemerintah masih sangat besar. Karena tidak adanya sistem yang mengontrol kinerja birokrasi. Bagaimana pendapat teman-teman? adakah yang punya pengalaman serupa?

Pentingkah Keunikan Produk?

Di tengah persaingan yang semakin ketat dan kompetitif. Perusahaan dituntut untuk mengembangkan produk sedemikian rupa sehingga mampu memikat hati customer. Perusahaan harus kreatif dan fokus pada pengembangan keunikan atau keunggulan produk yang dimiliki. Keunikan produk atau jasa tidak harus banyak. Namun sangat unik dan tidak dimiliki oleh perusahaan lain.Keunikan yang ada harus menambah value added suatu produk atau perusahaan.Keunikan tersebut tidak hanya semata-mata pada perbedaan dari segi produk tapi bisa juga keunikan dalam hal pemberian layanan kepada customer.

Keunikan produk atau layanan suatu perusahaan menjadi penting dan harus selalu ditingkatkan. Dengan terus mengembangkan keunikan suatu produk, maka akan terbentuk image produk yang menjadi pembeda diantara produk yang ada di pasaran.

Faktor apa yang membuat anda tertarik membeli suatu produk?

Birokrasi Belum Berubah

Beberapa tahun terakhir ini pemerintah santer dengan program pemberian remunerasi kepada PNS. Remunerasi ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan PNS. Dengan meningkatnya pendapatan PNS diharapkan dapat mengurangi terjadinya kasus korupsi. Selain itu juga pemerintah ingin meningkatkan pelayanan kepada masayarakat. Namun sayang, tujuan program remunerasi ini hingga saat ini hanya segelinter kementerian yang berhasil mewujudkannya. Padahal remunerasi sudah terlanjur digulirkan.Namun bagaimana dengan kasus korupsi yang merejalela hampir di semua kementerian sampai ke tingkat paling rendah di kelurahan misalnya? apakah program remunerasi benar-benar menjadi solusi atas masalah korupsi yang terjadi di negeri ini?.

Mungkin saja orang-orang yang sekarang berada di lingkaran pemerintah sudah mulai berbenah dan bertekad untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Tapi apakah dengan semangat individual ini bisa memerangi korupsi dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat? Semua ini hanya sia-sia belaka jika regulasi dan sistem yang ada di dalam lembaga tersebut tidak pernah mau diperbaiki. Justru sistem yang ada sekarang ini membuat banyak peluang untuk melakukan tindakan korupsi dan menambah birokrasi pemerintah.

Hal inilah yang saya alami beberapa minggu yang lalu. Pada saat kami harus memperpanjang dokumen perusahaan, ternyata berkas dokumen kami ditolak dengan alasan ada kesalahan kata-kata pada dokumen perubahan akte perusahaan.Namun anehnya pada tahun-tahun sebelumnya proses memperpanjang dokumen ini tidak menjadi masalah. Padahal dokumen perusahaan yang dipakai tetap sama. Walaupun awalnya kami protes, kami terpaksa harus memperbaiki dokumen tersebut. Ternyata birokrasi berbelit-belit itu tidak hanya berhenti sampai di situ.Karena untuk memperbaiki dokumen sesuai dengan permintaan instansi tersebut, maka berkas dokumen harus kami tarik kembali. Untuk menarik berkas yang sudah masuk ternyata tidak sesederhana yang kami bayangkan. Kami harus membuat surat permohonan penarikan berkas ke instansi dimana kami memasukan dokumen.Kemudian instansi tersebut harus membuat surat lagi ke instansi yang menangani masalah dokumen perusahaan. Sudah 3 minggu dari sejak surat permohonan berkas kami ajukan, sampai sekarang dokumen tersebut masih belum bisa diambil. Padahal informasi awal hanya sekitar 2 atau 3 hari. Setelah kami konfirmasi lagi katanya pimpinan sedang di luar kota.

Nampaknya upaya untuk memajukan perusahaan dalam negeri untuk bisa bersaing dengan perusahaan asing masih menjadi impian belaka. Bagaimana mungkin perusahaan lokal bisa berlari dengan cepat di tengah gempuran produk luar negeri yang serba kompetitif, kalau untuk urusan yang sifatnya remeh temeh saja dipersulit. Jadi jangan heran kalau banyak perusahaan asing yang memindahkan investasi atau pabriknya ke negera-negara tetangga. Masalah regulasi dan intangible cost yang relatif tinggi menjadi bumerang bagi para investor.

Bagaimana pendapat teman-teman apakah dengan program remunerasi bisa menjadi solusi untuk meningkatkan kinerja pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat ?

Kisah Seorang Penjaga Mesjid

Setelah melakukan shalat di salah satu mesjid kampus di yogyakarta, saya kemudian duduk santai di serambi mesjid. Salah seorang jamaah menghampiri saya dan kami pun bersalaman. Singkat cerita beliau mulai memperkenalkan diri bahwa beliau adalah penjaga di mesjid kampus tersebut. Beliau sudah bekerja menjadi penjaga mesjid tersebut selama 16 tahun dengan gaji terakhir 300 ribu/bulan. beliau bilang “Ini masih mending dibandingkan dengan saat pertama kali beliau bekerja yang hanya di gaji 75 ribu/bulan”.

Bagi kebanyakan orang, gaji sebesar itu sangat tidak masuk akal untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Tapi karena dikerjakan dengan tulus dan iklas beliau tidak menampakan sikap yang penuh dengan keluh kesah. Bahkan beliau sangat bersyukur dengan apa yang dikaruniakan Allah kepadanya. Saat ini anak pertama beliau sebentar lagi diwisuda dan sudah bekerja. Untuk pendidikan anak pertamanya, beliau tidak lagi memikirkan masalah biaya karena anaknya berhasil mendapatkan beasiswa penuh dari kampus. Bahkan sudah ada tawaran untuk melanjutkan pendidikan pascasarjananya dengan beasiswa dari kampus yang sama.Sementara anak kedua beliau, saat ini masih duduk di bangku SMA dan sudah mulai mencari uang sendiri dengan menjadi guru les privat.

Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua,agar senantiasa bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki saat ini.Terima kasih pak penjaga mesjid yang sudah memberikan inspirasi dan hikmah yang luar biasa.