Kapan Birokrasi Mau Berbenah ?

Baru-baru ini saya dan tim sedang melakukan riset mengenai kebutuhan peralatan usaha-usaha yang dijalankan oleh pelaku UMKM di salah satu daerah. Untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat, maka kami harus melakukan survey dan interview langsung terhadap pelaku usaha.

Namun sayangnya informasi mengenai sentra-sentra industri UMKM masih sulit kita dapatkan di dunia maya. Kalaupun ada hanya beberapa saja, itupun seringkali tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Akhirnya saya dan tim memutuskan untuk mencari data di kantor dinas perindustrian,perdagangan dan koperasi. Ternyata respon dari pihak dinas di luar dugaan kami, karena untuk mengakses informasi mengenai keberadaan sentra-sentra produksi UMKM prosedurnya tidak sesederhana itu. Kami diminta untuk mengajukan surat resmi terlebih dahulu ke dinas tersebut. Selanjutnya pihak dinas, baru akan mencari informasi yang kita butuhkan. Bukan mengakses informasi tapi masih dalam tahap mencari,belum lagi kalau data dan informasi yang tersedia sudah lama tidak diupdate. Padahal informasi seperti ini harusnya bisa dipublish di website dinas. Sehingga publik dengan mudah mengaksesnya.

Betapa tidak mudahnya kita melakukan riset di negeri ini. Informasi yang seharusnya bisa diakses dengan mudah oleh publik, baik melalui online maupun offline tapi harus melalui meja-meja birokrasi yang sarat dengan ketidakjelasan dan kepentingan. Apakah wajah birokrasi kita sudah sebanding dengan remunerasi yang diterima ?

Iklan

Penting Gak Penting Pendidikan Formal?

Pagi tadi secara tidak sengaja saya bertemu dengan salah seorang sahabat waktu kuliah dulu. Sahabat saya ini sekarang menjadi dosen tetap di almamater kami. Saat ini sedang dalam persiapan untuk melanjutkan pendidikan doktornya di Jerman. Setelah berbicara panjang lebar kemudian sahabat saya bertanya “kamu nggak ingin kuliah lagi  An?, kalau kamu kuliah jabatanmu naik kan?”. Saya agak bengong dengan pertanyaan yang kedua.

Dengan lembut saya katakan kalau di kantor kami, tidak ada hubungannya antara pendidikan formal dengan jabatan. Bahkan ada manager yang hanya berpendidikan sarjana muda. Namun secara kemampuan memang pantas untuk mengisi posisi tersebut.

Ternyata ada sebagian orang yang berpikiran dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, secara otomatis akan mendapatkan materi dan kedudukan yang lebih tinggi. Untuk karir di institusi pemerintah mungkin iya, tapi kalau di dunia industri belum tentu. Karena kemampuan seseorang lebih dihargai dari pada hanya selembar ijazah.

Bukankah tujuan dari pendidikan itu sendiri adalah mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya? Dengan ilmu dan kemampuan itulah orang diapresiasi dan dihargai baik secara sosial maupun materi.

Kenapa Yoris Sebastian yang hanya berbekal lulusan SMU bisa menjadi General Manager di Hard Rock Cafe jakarta pada usia 26 tahun.?Bahkan menjadi General Manajer termuda di asia pasifik dan nomor 2 di dunia. Pertimbangannya tentu saja karena kemampuannya yang memang pantas untuk mengisi posisi prestesius tersebut.

Pendidikan formal itu penting. Mencari ilmu wajib hukumnya.  Bagi yang belum bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi jangan pesimis karena belajar itu tidak harus melalui pendidikan formal, kita bisa belajar dimana saja..