Layanan di Luar Jam Kerja

Keberadaan penjualan secara online semakin memudahkan kita dalam berbelanja. Bagi orang-orang yang tidak punya waktu luang, berbelanja melalui media online merupakan salah satu solusi yang tepat. Selain mudah dan praktis, bertransaksi melalui dunia maya ini bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja asalkan bisa terkoneksi dengan internet. khususnya bagi customer yang berbelanja pada webstore-webstore yang sudah full e-commerce, yang mana melakukan penjualan dan support sistem selama 24 jam dan tidak mengenal hari libur.

Lain halnya dengan pebisnis online yang masih melayani penjulan online dan offline?. Disatu sisi pemasaran online tetap bekerja selama 24 jam, namun supportnya hanya bisa dilayani pada jam kerja. Padahal tidak sedikit dari calon customer yang ingin bertransaksi pada hari-hari libur atau diluar jam kerja.

Menurut teman-teman apakah anda lebih senang bertransaksi online pada hari libur dan di luar jam kerja atau pada saat jam kerja?

Transaksi Online

Beberapa waktu yang lalu salah satu calon customer kami terpaksa mengurungkan transaksi pembeliannya. Karena sistem pembayaran yang kami terapkan mensyaratkan uang muka pada saat pemesanan produk. Di satu sisi, customer menginginkan produk dikirim dulu. Setelah produk diterima baru akan melakukan proses pembayaran. Setelah saya diskusi dengan calon customer tersebut, ternyata yang bersangkutan punya pengalaman buruk dengan transaksi online. Setelah uang ditransfer ternyata produk yang dipesan tidak kunjung tiba.

Praktek semacam ini ternyata masih saja terjadi di duni maya. Sebenarnya banyak tools pembayaran yang bisa dilakukan untuk meminimalisir kejadian seperti ini. Sayangnya tidak semua orang familiar dan mau melakukan transaksi dengan tools pembayaran yang tersedia.

Integritas dan kejujuran dalam transaksi online sangat penting. Dalam dunia bisnis, tidak bisa hanya memikirkan keuntungan sesaat. Namun harus membangun kepercayaan dengan semua stakeholder. Bagaimana pendapat teman-teman? ada yang punya pengalaman serupa?

ONLINE ≠ OFFLINE

Dengan menjamurnya pengguna internet di seluruh dunia, maka tidak heran semua pekerjaan dan aktivitas kita banyak bersentuhan dengan dunia online.Hampir semua urusan atau aktivitas bisa kita lakukan di dunia maya. Tidak terkcuali dalam menjalankan bisnis. Dengan biaya yang relatif kecil pelaku usaha sudah bisa menjangkau customer di seluruh dunia.Hal ini akan membawa dampak positif bagi pelaku usaha kecil menengah yang sering mengalami kesulitan pendanaan. 

Sehingga sangat wajar kalau sekarang ini bermunculan beberapa bisnis atau usaha yang dijalankan secara online dan offline. Walalupun tidak sedikit bisnis yang masih dijalankan secara offline.Namun sayangnya beberapa usaha kecil yang masih berstatus startup company seringkali mengabaikan kualitas layanan offline. Kalau dilihat website dan taglinenya di internet kesannya luar biasa. Padahal kenyataannya jauh dari yang diharapkan.Untuk usaha di bidang kuliner misalnya dimana citarasa, kebersihan, dan pelayanan yang cepat menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.

Pengalaman saya yang penasaran dengan informasi kuliner di dunia maya, karena tergiur dengan tagline menu makanan yang sehat,citarasa yang unik,dll yang semuanya sangat berbeda dengan yang lainnya.Walaupun ada ungkapan “Kalau untuk makanan kita tidak boleh lihat tempat usahanya tapi coba dulu rasanya “. Siapa tau seperti Bakmi Mbak Mo Bantul yang super pelosok yang jauh dari kesan mewah tapi enaknya bikin orang luar kota sampai ngantri berjam-jam.Namun kenyataan yang saya liat sangat berbeda baik pelayanan,kebersihan, apalagi citarasa yang jauh dari tagline yang mereka gembar-gemborkan di dunia maya.

Melakukan promosi di dunia online sangat penting. Namun jika informasinya tidak sesuai dengan kenyataannya maka jangan harap terjadi transaksi apalagi repeat order. Teman-teman ada yang punya pengalaman yang mengecewakan dalam bertransaksi secara online?