Jatuh Cinta dengan Customer?

Judul diatas kebalikan dari postingan sebelumnya tentang customer yang jatuh cinta dengan salah seorang staf teknis kami. Jatuh cinta di sini maksudnya bukan cinta beneran, namun pihak customer sudah merasa puas dengan kompetensi dan layanan staf teknis yang ditugaskan di organisasi mereka. Sehingga mereka merasa keberatan jika tenaga teknis tersebut harus diganti dengan tenaga teknis yang lain. Padahal di internal perusahaan sendiri berkewajiban untuk memberikan hak cuti kepada tenaga teknis yang sudah bertugas di lokasi proyek dalam waktu tertentu. Walaupun secara kompetensi memiliki keahlian yang sama tapi secara personal pasti ada perbedaan. Nah perbedaan dari segi soft skill inilah yang sering menjadi pertimbangan cocok tidaknya customer dengan tenaga teknis kami.

Beberapa hari yang lalu kami mendapat informasi dari salah satu customer bahwa salah seorang staf teknis kami sering tidak masuk kerja. Dari informasi tersebut kami segera melakukan komunikasi dengan yang bersangkutan. Pengakuan awalnya sich dia tidak ada masalah apa-apa selain masalah kurang enak badan. Namun informasi dari customer menyatakan, bahwa yang bersangkutan baru saja ditinggal nikah oleh pacarnya. Kok bisa customer kami lebih tau ? karena kebutulan cewek yang dipacarinya adalah sekretaris kepala IT di organisasi tersebut. Padahal kami sudah mewanti-wanti agar tetap bersikap profesional dalam menjalankan tugas. Silakan anda menebar pengetahuan dan kemampuan anda cuman anda tidak boleh menebar pesona 🙂 dengan staf atau siapa pun di instansi customer. Karena kami tidak mau jika customer tidak terpenuhi hak-haknya hanya gara-gara staf teknis yang tidak profesional.

Kejadian cinlok (cinta lokasi) dengan salah seorang di organisasi customer ini sudah sering terjadi. Yang saya heran tidak sedikit dari teman-teman yang bertugas di lokasi proyek tersebut sudah memiliki pacar bahkan tunangan. Tapi kalau kejadian ditinggal menikah dengan pacar ini yang langkah. Biasanya kisah cinta mereka ujung-ujungnya berakhir di pelaminan :).

Bagaimana menurut teman-teman ? ada yang punya pengalaman serupa.?

Implementasi IT Siapa Takut?

Kemarin kami diminta memberikan presentasi tentang Sistem Informasi Manajemen di salah satu organisasi. Karena proses implementasi suatu sistem pasti melibatkan user, maka dalam beberapa kesempatan sosialisasi atau presentasi, pimpinan organisasi selalu melibatkan user disamping tim IT dan Manajemen.

Manajemen dan tim IT selalu memberikan ekspektasi yang besar dengan implementasi sistem IT. Dengan implementasi sistem IT diharapkan dapat meningkatkan daya saing suatu organisasi. Namun sayangnya respon beberapa user selalu merasa terisolasi dengan penerapan sistem IT. User menganggap dengan implementasi suatu sistem, maka posisi dia sebagai karyawan dalam suatu organisasi terancam. Karena beberapa pekerjaan sudah bisa tergantikan oleh sistem.

Padahal pada kenyataannya tidak demikian, karena secanggih apapun sistemnya pasti membutuhkan brainware ntuk menjalankan sistem tersebut. Walaupun tidak dipungkiri bahwa dengan implementasi sistem IT ada beberapa business process yang mengalami perubahan. Ada kemungkinan prosesnya lebih panjang dan ada juga yang lebih simpel. Sangat tergantung dari besar kecilnya suatu organisasi.

So, Kenapa harus takut dengan implementasi sistem IT?

Tantangan Implementasi Sistem Informasi Manajemen

Sudah satu tahun kami mengimplementasikan Sistem Informasi Manjemen di salah satu instansi pemerintah. Secara keseluruhan sistem sudah mulai diimplementasikan di hampir semua unit kerja yang ada dalam organisasi tersebut.

Dengan implementasi sistem diharapkan semua sistem manual tergantikan oleh sistem komputerisasi. Ironisnya, untuk meninggalkan sistem manual tidak semudah di institusi swasta, khususnya pada form pelaporan tertentu ternyata tidak bisa digantikan dengan output dari sistem komputerisasi. Sementara untuk menggantikan form pelaporan tersebut harus mendapat persetujuan dari pemda setempat. Yang tentu saja membutuhkan waktu dan birokrasi yang panjang.

Di beberapa customer kami yang juga instansi pemerintah, untuk masalah legalitas output sistem komputerisasi cukup dengan SK (surat keputusan) pimpinan SKPD setempat. Maklum saja customer yang kami tangani ini secara organisasi lumayan besar dibandingkan beberapa customer kami di instansi pemerintah lainnya.

Dengan belum adanya keputusan mengenai legalitas output dari pada Sistem Informasi Manajemen, maka secara otomatis user akan menggunakan sistem manual sebagai prioritas utama. Solusi yang bisa dilakukan adalah menjalankan sistem secara paralel. Sistem manual tetap dijalankan untuk form pelaporan tertentu yang tidak bisa digantikan dengan sistem komputerisasi. Namun untuk pelaporan internal organisasi atau yang lainnya semua menggunakan sistem komputerisasi.

Nampaknya solusi ini tetap mendapat resistensi dari para pemegang kepentingan oknum yang keran rezekinya tertutup. Karena dengan implementasi sistem komputerisasi, informasi yang dihasilkan lebih transparan dan akuntable. Sehingga tidak memungkinkan pihak tertentu untuk melakukan penyelewengan.

Kenapa sering terjadi kegagalan implementasi Sistem Informasi Manajemen di instansi pemerintah..? Dalam banyak kasus,sistem sengaja tidak mau dimanfaatkan dengan baik karena mereka takut kebobrokannya terungkap.

Semoga kedepan banyak pemimpin yang visioner yang berani membuat keputusan-keputusan penting dengan memanfaatkan kemampuan teknologi untuk mencegah segala bentuk penyimpangan.