Keputusan Membeli Produk

Beberapa minggu yang lalu, salah satu konsumen kami menceritakan bahwa beliau sudah memiliki produk sejenis seperti apa yang dibeli di tempat kami. Produk yang digunakan masih running well hingga saat ini. Kami penasaran, kenapa konsumen tersebut tetap ngotot membeli produk di tempat kami. Padahal dari informasi yang disampaikan, tidak ada kesan kalau produk dan layanan dari penyedia sebelumnya mengalami masalah. Dari segi harga juga kompetitif. Layanan purna jual juga bagus.

Namun ada hal yang menarik, pada saat beliau ingin mengetahui tentang produk kami, beberapa penyedia lain menceritakan hal-hal negatif tentang perusahaan kami. Bukannya konsumen mundur, justru semakin penasaran dengan produk dan layanan yang kami sediakan. Sampai akhirnya beliau memutuskan untuk membeli produk di tempat kami. Padahal sudah beberapa kali konsumen tersebut melakukan repeat order kepada penyedia sebelumnya.

Konsumen semakin cerdas dalam menentukan produk yang dibeli. Keputusan membeli sebuah produk bukan berdasarkan informasi dari penyedia produk. Informasi dan review dari beberapa sumber dan konsumen, salah satu faktor penting dalam menentukan keputusan membeli. 

Melakukan black compaign terhadap kompetitor hanya membuang energi semata. Fokus untuk memberikan solusi kepada konsumen merupakan hal yang menjadi prioritas utama bagi penyedia produk. Bagaimana menurut anda ?

Iklan

ONLINE ≠ OFFLINE

Dengan menjamurnya pengguna internet di seluruh dunia, maka tidak heran semua pekerjaan dan aktivitas kita banyak bersentuhan dengan dunia online.Hampir semua urusan atau aktivitas bisa kita lakukan di dunia maya. Tidak terkcuali dalam menjalankan bisnis. Dengan biaya yang relatif kecil pelaku usaha sudah bisa menjangkau customer di seluruh dunia.Hal ini akan membawa dampak positif bagi pelaku usaha kecil menengah yang sering mengalami kesulitan pendanaan. 

Sehingga sangat wajar kalau sekarang ini bermunculan beberapa bisnis atau usaha yang dijalankan secara online dan offline. Walalupun tidak sedikit bisnis yang masih dijalankan secara offline.Namun sayangnya beberapa usaha kecil yang masih berstatus startup company seringkali mengabaikan kualitas layanan offline. Kalau dilihat website dan taglinenya di internet kesannya luar biasa. Padahal kenyataannya jauh dari yang diharapkan.Untuk usaha di bidang kuliner misalnya dimana citarasa, kebersihan, dan pelayanan yang cepat menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.

Pengalaman saya yang penasaran dengan informasi kuliner di dunia maya, karena tergiur dengan tagline menu makanan yang sehat,citarasa yang unik,dll yang semuanya sangat berbeda dengan yang lainnya.Walaupun ada ungkapan “Kalau untuk makanan kita tidak boleh lihat tempat usahanya tapi coba dulu rasanya “. Siapa tau seperti Bakmi Mbak Mo Bantul yang super pelosok yang jauh dari kesan mewah tapi enaknya bikin orang luar kota sampai ngantri berjam-jam.Namun kenyataan yang saya liat sangat berbeda baik pelayanan,kebersihan, apalagi citarasa yang jauh dari tagline yang mereka gembar-gemborkan di dunia maya.

Melakukan promosi di dunia online sangat penting. Namun jika informasinya tidak sesuai dengan kenyataannya maka jangan harap terjadi transaksi apalagi repeat order. Teman-teman ada yang punya pengalaman yang mengecewakan dalam bertransaksi secara online?

Waktu Pekerjaan Tidak Rasional

Bagi perusahaan yang sering mengerjakan proyek-proyek di instansi pemerintah, mungkin pernah mengalami masalah dengan waktu penyelesaian pekerjaan yang tidak rasional. Misalnya saja untuk mendevelop suatu sistem tertentu hanya diberikan waktu 1 atau 2 bulan saja. Padahal untuk mengerjakan pekerjaan tersebut idealnya membutuhkan waktu misalnya sampai 6 bulan. Hal ini sering terjadi karena birokrasi pemerintah yang sangat kaku. Jika paket pekerjaan yang sudah dianggarkan ternyata tidak dilaksanakan, maka sudah pasti untuk pekerjaan serupa di tahun mendatang tidak akan mendapat persejutuan oleh pihak legislatif. Sementara di satu instansi terdapat beberapa paket pekerjaan yang proses pemeilihan rekanannya melalui proses tender yang juga membutuhkan waktu yang lama. Sehingga untuk paket-paket pekerjaan yang mendapat jatah tender terakhir biasanya waktunya tidak mencukupi. Karena pada bulan desember pekerjaan harus selesai dengan progress pekerjaan 100%.

Tantangan yang lumayan berat bagi penyedia barang/jasa adalah menyelesaikan pekerjaan yang melibatkan orang-orang di instansi tersebut. Misalnya seperti kegiatan pelatihan software untuk user atau operator. Walaupun kita sudah membuat schedule sedemikian rupa, biasanya pasti molor karena jumlah peserta yang mengikuti pelatihan tidak sesuai dengan target yang harus dilatih. Sehingga harus mengalokasikan waktu tambahan.

Karena selain menyediakan software, penyedia barang/jasa juga berkewajiban untuk memberikan pelatihan dan pendampingan terhadap sistem yang diimplementasikan. Kegiatan pelatihan dan pendampingan ini dilakukan untuk memastikan sistem berjalan dengan baik dan digunakan sesuai dengan SOP dan business process yang telah ditentukan.

Waktu penyelesaian pekerjaan menjadi salah satu pertimbangan bagi penyedia barang/jasa yang bergerak di bidang customize produk untuk memastikan kualitas produk sesuai dengan yang diharapkan. Bersikap jujur terhadap customer mutlak dilakukan. Jika harus berhadapan pada kondisi yang tidak realistis untuk diselesaikan. Maka kita perlu menyampaikan informasi dan pengertian apa adanya. Dari pada memberikan kesanggupan, sementara kita tidak mampu memenuhi sesuai dengan keinginan customer. Alih-alih mendapat repeat order, malah sebaliknya penyedia barang/jasa akan ditinggalkan oleh pelanggan setianya.

Bagaimana pendapat teman-teman ?